Bagaimana Melawan Korupsi dan Intoleransi?

www.smphangtuah3.info–Dewasa ini bangsa kita disibukkan dengan beberapa kasus korupsi yang mewabah ke beberapa daerah, tidak hanya di Jakarta sebagai pusat power ibukota melainkan di berbagai wilayah pelosok pun ada beberapa oknum yang telah melakukan korupsi.

Permasalahan yang lainnya adalah tentang Intoleransi, sebagai contohnya satu keluarga yang berselisih dengan tetangganya dikarenakan beda pendapat mengenai pemilihan gubernurnya, terlebih diselipkan isu agama yang sangat sensitif.

Dua hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam artikel saya kali ini. Namun sebelum saya jabarkan, akan saya sampaikan bahwa saya beragama Islam dan saya sangat menghargai perbedaan yang ada di bawah naungan merah putih ini. Saya dilahirkan dalam keluarga yang berbeda keyakinan antara ayah dan ibu saya, namun tidak pernah terjadi perselisihan intern dalam keluarga kami. Justru saya melihat kedewasaan dan cara yang unik dalam hal mendidik yang pada dasarnya pasti berbeda keyakinan, dari situlah saya paham bahwa inilah yang disebut Bhinneka Tunggal Ika.

Dari hal kecil yang ada di keluarga tersebut saya terapkan dalam bidang saya yaitu pendidikan. Saya mengajar di sekolah tanpa membeda-bedakan dan selalu menerima setiap pendapat yang ada. Saya tegaskan pula kepada anak didik saya agar menjadi pribadi yang berkarakter untuk tidak melakukan korupsi sedikitpun karena dosanya besar.

Pertama dapat saya simpulkan, untuk melawan tindak korupsi adalah penanaman jatidiri yang berkarakter sejak dini saat seseorang masih berada di bangku sekolah. Apabila dari awal bibit kejujuran sudah ditanamkan dalam sanubari maka kelak tidak akan ada lagi kasus korupsi. Terlebih diiringi dengan payung hukum yang tajam akan menjadi momok bagi si pelanggarnya dalam hal ini adalah koruptor.

Kedua, tentang Intoleransi, saya kurang sependapat jika menggunakan kata ‘melawan’, saya akan menggunakan dikasih ‘merangkul’. Lebih terdengar mengayomi dan menghargai bukan dengan menghakimi dan memusuhi. Setiap orang yang berpandangan berbeda dengan orang lain kemudian ia bersikeras terhadap egonya sehingga tidak mau bertoleransi terhadap pendapat yang kontra, ini harus kita rangkul. Beri pemahaman tentang indahnya perbedaan yang menyatukan, sehingga bersinergi menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian tulisan singkat saya, semoga bermanfaat bagi pembaca. Jangan saling hujat jangan saling mencaci, tumbuhkan rasa toleransi demi membangun bangsa ini

 

Jakarta, 22 Januari 2018

Ditulis oleh : Deny Indra Himawan, Guru SMP Hang Tuah 3

Tinggalkan Balasan