Pesona Pesantren Ramadhan 1439 Siswa SMP Hang Tuah 3

smphangtuah3.info – Jakarta, SMP Hang Tuah 3 Jakarta Utara kembali melaksanakan kegiatan Pesona Pesantren Ramadhan 1439 Hijriah mulai tanggal 6 sampai dengan 7 Juni 2018 di Masjid Al-Mustaqim dan Lapangan SMP Hang Tuah 3 dan diikuti oleh guru dan siswa muslim kelas VII dan VIII.

Kegiatan Pesona Pesantren Ramadhan 1439 Hijriah Siswa SMP Hang Tuah 3 dibuka oleh Ibu Ketua Pengurus Cabang Jakarta Yayasan Hang Tuah, yakni Ibu Hj. Is Sumiati pada hari Rabu, 6 Juni 2018. Sebagai puncak kegiatan acara kegiatan Pesona Pesantren Ramadhan 1439 Hijriah ini adalah Tausiah Pesona Ramadhan oleh Ustadz Mahrus dan Buka Puasa Bersama Siswa SMP Hang Tuah 3 pada hari Kamis, 7 Juni 2018.

Sedikit nasihat singkat yang menjadi intisari Tausiah Pesona Ramadhan 1439 H oleh Ustadz Mahrus adalah nasihat untuk memuliakan guru. Bagi seorang murid, yang menjadi tujuannya berangkat ke sekolah adalah dalam rangka menuntut ilmu, dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, bermanfaat bagi diri sendiri juga bermanfaat bagi orang lain, membawa keberkahan untuk sesama makhluk.

“Manjadda wajadda” Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Selagi kita masih dalam usia belia muda, maka bersungguh-sungguhlah dalam belajar menuntut ilmu, agar kelak di kemudian hari tidak ada penyesalan karena malas belajar. Berlelah-lelahlah berjuang, maka engkau akan menikmati manisnya kehidupan.

Kalau engkau sudah berlelah-lelah dalam berjuang dengan penuh pengorbanan, maka muliakannya gurumu agar berkah ilmumu. Karena kewajiban seorang murid terhadap gurunya adalah menghormati dan memuliakannya, bersikap lemah lembut serta menjaga kehormatannya.

Imam Syafi’i berkata, “Aku membuka lembaran-lembaran kitab di depan Imam Malik (guruku) dengan sangat pelan agar tidak terdengar lembaran itu ketika dibuka sebagai ras ta’dzimku kepada guruku”. Demikian sikap Imam Syafi’i dalam menghormati dan memuliakan gurunya, Imam Malik. Imam Rabi’ sahabat karib sekaligus murid Imam Syafi’i berkata, “Aku tidak akan berani minum di depan Imam Syafi’i sementara beliau sedang memandangku sebagai rasa ta’dzimku kepada guruku itu”. Imam Nawawi saat bersedekah ketika berangkat mengaji beliau berdoa, “Ya Allah, tutupilah semua kekurangan guruku, agar mataku tidak melihat kekurangan atas guruku dan tidak seorangpun menyampaikan kekurangan itu”.

Semoga kita selalu memuliakan guru-guru kita, menghormati dan memuliakan guru-guru kita sebagaimana kita menghormati dan memuliakan kedua orang tua kita. Semoga dengan kita memuliakan guru-guru kita, Insyaallah ilmu yang kita peroleh dari guru-guru kita, akan membawa keberkahan bagi hidup dan kehidupan kita. Maka, muliakan gurumu agar berkah ilmumu.

Be the first to comment

Leave a Reply