Tak Ada Alasan Bagi Kita Untuk Tidak Menghormati Orang Tua

Kalau kita mau sedikit mengingat, bagaimana menderitanya seorang ibu dalam kehamilan dan dalam proses persalinan, niscaya tangan beliau akan segera kita ambil, untuk segera kita cium

 

Luqman teringat masa kecilnya yang bandel dan nakal. Bertingkah selalu menyebalkan orang tuanya, terutama ibunya. Susah disuruh, susah diminta tolong, dan susah diajak shalat. Terutama kalau sedang main. Kalo lagi datang ngambeknya, semua perabotan yang terjangkau diobrak-abrik. Tanpa perasaan bersalah. Luqman kecil digelari julukan sama saudara-saudaranya, ‘jelek adat’.

Sifat jelek yang dulu dianggap wajar tersebut terbawa hingga remaja dan dewasa. Kini, ketika sudah menjadi ayah, dan menyaksikan sendiri penderitaan yang dialami istrinya, ibu dari bayinya, ia menjadi tahu betapa seorang anak manusia itu betul-betul harus [bukan sekedar harus] menghormati dan menyayangi orang tuanya, terutama ibunya.

Luqman ikut merasakan sendiri kesakitan yang dirasakan istrinya ketika hamil. Mulai dari rasa pegal yang tak kunjung hilang di seputar pinggang, kecuali setelah melahirkan. Terus harus bersikap ekstra hati-hati dalam tidur, berjalan dan berbuat. Dan seribu satu macam rasa yang cukup membuat tidur sang istri yang sedang hamil terganggu.

Bahkan setelah melahirkan pun, beban yang harus dipikul olehnya masih ‘terus berlangsung’. Begitu capenya istrinya itu mengasuh bayinya, begitu letihnya istrinya merawat sang bayi. Sebuah beban, yang layak disebut ‘penderitaan’. Hanya saja karena cintanya sebagai seorang ibu, kasihnya yang membuat istrinya itu tidak menganggap hal tersebut sebagai penderitaan.

Demi menyaksikan sendiri pengalaman kehidupan yang dialami istrinya yang begitu berat, membuat luqman segera ingin sujud, mencium kaki bundanya. Meminta maaf atas segala kesalahannya dimasa kecil, remaja dan dewasa, dimana ia merasa pernah bertindak melampaui batas, tidak menghormatinya dan menjadi anak yang bandel. Ia mengukur, kiranya begitu pulalah peristiwa hidup ketika ia dikandung dan dilahirkan bundanya.

Ya, rasanya tak pantas kita menjadi anak yang begitu durhaka terhadap orang tua kita sendiri. Kita akan merasakannya, apalagi buat sebagian kita yang saat ini sudah memiliki anak. Pengalaman selama kehamilan istrinya dan pengalaman pasca kehamilan, seharusnya mengajarkan kita untuk bisa menaruh hormat dan kasih sayang yang berlebih buat orang tua kita. Sekali lagi terutama buat ibu kita. Takkan pernah terbayar, takkan pernah terbayar…..!

 Bu…,

Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya kami menjadi anak yang hormat & sayang kepada Ibu

Kepada Tuhan, ampunkanlah segala kesalahan dan dosa orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami

Bila keridhaan-Mu pada keridhaan orang tua kami, maka ridhailah orang tua kami agar mereka meridhai kami juga. Andai Engkau sayang kepada kami lantaran kami sayang kepada orang tua kami, jadikanlah kami anak-anak yang menyayangi mereka, dalam suka, dan dalam duka.

Bila kami sedikit membayang, bagaimana kami dalam asuhan orang tua, dekapan orang tua, terutama ibu, rasanya takkan pernah tertebus segala kebaikan mereka, dan rasanya tak wajar bila kami melihat celah keburukannya. Sekedar ngantuk tak dihiraukannya, sekedar cape tak juga diindahkannya, semuanya demi kami, anak-anaknya.

Wahai Pemilik surga dengan segala kenikmatan, andai Engkau takdirkan surga menjadi tempat kami kelak di hari akhir, maka orang tua kamilah yang lebih layak memasukinya terlebih dahulu. Dan andaikan neraka yang menjadi tempat bagi orang tua kami –ah, tak sanggup saya mengatakan ini, kami lebih suka mengatakan andai bukan surga tempat orang tua kami-, maka biarlah kami yang menjadi penebus bagi orang tua kami. Engkau Pemilik hari akhir, dan di hari akhir ada ampunan dan azab-Mu, sedang Engkau Maha Pengampun lagi penuh belas kasih, maka ampunilah kami ya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *